Di sebuah apartmen yang sederhana, kisah antara dua saudara yang terikat oleh hutang dan keinginan untuk menyelesaikan masalah mereka bermula. "Sis-chan, maaf ya, tapi bisakah kau pinjam aku sedikit uang?" Permintaan itu datang dari adik lelaki yang sedang dalam kesulitan. "Kau tahu, aku tidak mungkin punya uang segitu, kan? Tapi kenapa kau meminta?" Ternyata, adik lelaki itu mengalami kegagalan dalam investasi yang dia lakukan atas instruksi seseorang. Kini, dia harus mengembalikan hutang yang dia ambil dari orang tersebut.
Ibu mereka, "Ibu-san", menambahkan tekanan dengan mengingatkan mereka bahwa mereka harus bertindak lebih dewasa. Namun, kisah ini tidak hanya tentang hutang. Dalam usaha menyelesaikan masalah tersebut, adik lelaki itu meminta bantuan dari "Sis-chan" — saudara perempuannya. "Bagaimana kalau kau bekerja di rumahku sebagai pelayan selama tiga hari?" Tawaran itu dianggap sebagai kesempatan terbaik untuk menghilangkan hutang adik lelaki itu.
Dengan setuju, "Sis-chan" memulai tugasnya di apartmen itu. Kehidupan sebagai pelayan berubah menjadi permainan antara kepatuhan dan keinginan. Setiap hari, "Sis-chan" menjalani tugas-tugas yang diberikan oleh adik lelaki itu, yang kini disebut "Tuan Rumah". Dari tugas yang sederhana hingga kegiatan yang lebih intens, hubungan antara mereka terus berkembang.
Di akhir tiga hari itu, hubungan mereka mencapai puncaknya. Kehidupan yang penuh ketegangan, keintiman, dan kebahagiaan menyatukan mereka dalam sebuah kisah yang tidak terlupakan. Dengan kelelahan dan kepuasan, "Sis-chan" mengakhiri hari-hari kerja sebagai pelayan. Namun, hubungan mereka tidak berakhir di sana — justru, itu hanya permulaan dari sesuatu yang lebih besar.