Kurata-san, seorang ibu tunggal yang baru saja bercerai akibat perbedaan nilai hidup, kini hidup bersama anak lelakinya, Taichi. Ia masih terus bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka, meskipun pernah menjadi ibu rumah tangga selama ini. Setiap hari, ia menghadapi tantangan baru, seperti kenaikan biaya makan siang sekolah yang bisa membuat keuangan mereka semakin ketat. Tapi meskipun begitu, ia tetap bersemangat dan terus berjuang, karena senyuman Taichi adalah sumber kekuatannya.
Suatu hari, Kurata-san menerima tawaran untuk bekerja di sebuah konsep kafe dengan upah yang cukup menarik. Meskipun ragu, ia pun memutuskan untuk menghadiri wawancara. Hasilnya mengejutkan—dia diterima! Rasa bahagia dan kegembiraan terpancar dari wajahnya, meskipun ia masih merasa ragu dengan pakaian yang diberikan.
Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama. Saat ia pulang, Taichi sudah menunggu di rumah. Rasa penasaran dan keinginan yang terpendam membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Tension meningkat, dan mereka akhirnya berada dalam situasi yang sangat intim. Kurata-san, meskipun awalnya ragu, akhirnya menyerah pada keinginan yang membara.
Kedua orang ini membagi perasaan yang sama—rasa cinta, keinginan, dan kebahagiaan yang terpendam. Meskipun mereka adalah ibu dan anak, hubungan mereka tidak bisa disangkal. Mereka berada dalam momen yang penuh sensasi dan kehangatan, menghadirkan kebahagiaan yang tak terlupakan.
Dari awal hingga akhir, Kurata-san dan Taichi mengalami perjalanan yang penuh emosi—dari ketegangan, kegembiraan, hingga kepuasan yang memuncak. Mereka berada dalam kisah yang penuh kehangatan dan keintiman, membawa kebahagiaan yang tak terlupakan.