Jyun-chan, yang sedang duduk di sebelahnya, merasa sedikit malu ketika ayahnya bertanya, "Kenapa kau melakukan pencurian?" Jyun-chan menjawab dengan tulus, "Aku tidak tahu mengapa aku melakukan pencurian. Tapi stres yang menumpuk di dalam hatiku membuatku melakukan hal itu." Ia mengakui bahwa kehidupan baru yang tidak terlalu nyaman bersama keluarga baru setelah ibunya menikah lagi menjadi salah satu penyebabnya. Ayahnya, yang merupakan orang tua Jyun-chan, memahami keadaan anaknya. Ia mengatakan, "Tidak apa-apa, kau punya waktu untuk perlahan-lahan memperbaikinya."
Ayahnya pun menawarkan sesuatu yang menarik, "Ayo, malam ini kita makan di luar. Setelah selesai, aku akan membelikanmu pakaian. Kau harus belajar keras, karena ibumu akan kesulitan jika kau tidak masuk perguruan tinggi."
Jyun-chan merasa sedikit lega, tapi ia tetap merasa tertekan karena ibunya selalu menuntutnya untuk belajar. Ia pun berpikir, "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus sedikit bersenang-senang juga." Tapi ketika ia berpikir begitu, ayahnya sudah mulai menghampirinya dengan penuh perhatian.
"Kau ingin aku masuk ke dalamnya?" tanya ayahnya dengan senyum lembut. Ia pun mulai memasukkan dirinya ke dalam tubuh Jyun-chan. Ia memperhatikan setiap gerakan dan menghargai perlahan-lahan kebahagiaan yang ia berikan.
Jyun-chan merasa sedikit malu, tapi ia tetap menikmati perhatian ayahnya. Ia pun mulai menikmati setiap sentuhan, setiap pergerakan. Ayahnya pun terus memberikan kehangatan dan kebahagiaan yang ia berikan. Ia pun menikmati setiap momen, setiap perlahan-lahan kebahagiaan yang ia berikan.
Dari kebahagiaan itu, Jyun-chan pun merasa semangat untuk terus belajar dan menjalani hidupnya dengan penuh perhatian dan kebahagiaan. Ia pun menikmati setiap momen, setiap perlahan-lahan kebahagiaan yang ia berikan.